Kamu…

Perasaan ini membuatku benar-benar merasa “gila”. Kegilaan yang tak mampu kuhilangkan karna akan semakin “gila” jika aku berusaha untuk menghilangkannya.

Kamu…

Ini semua tentang kamu dengan pesan-pesan singkatmu yang mampu membuat aku “ketagihan”. Pesan singkat yang mampu membakar semangatku dalam waktu singkat menjadi begitu bersemangat.

Ini semua tentang kamu dengan gurauan-gurauan kecilmu yang slalu membuatku tersenyum walau cuaca hatiku sedang mendung. Mendung dikala melihat senyummu yang tak dapat kumiliki.

Ini semua tentang kamu dengan kehadiranmu didepan pintu rumahku yang selalu menjadi vitamin bagiku. Vitamin yang tak pernah ada dalam resep dokter namun mampu membuat hari-hariku menjadi hari terbaik sepanjang hidup.

Kamu…

Yang selalu ingin kuajak berdialog walau dalam diam. Setiap kukunjungi engkau dengan sekali klik, setiap itu pula hatiku tak mampu menahan rasa ini. Setiap kulihat namamu di ponselku, ingin rasanya aku menghapus agar aku melupakanmu, melupakan rasa ini. Rasa yang tak kan pernah mampu untuk kuungkapkan karna kau memiliki rasa yang sama pada orang lain. Rasa yang selalu kuharap suatu saat akan kau balas walau hanya sesaat.

Kamu…

Yang saat sedihmu selalu ingin kupinjami bahu untuk bersandar. Yang saat kesepianmu selalu ingin kurentangkan kedua tanganku, agar kau tahu bahwa aku akan selalu ada untukmu. Yang setiap langkahmu selalu ingin kuiringi dengan doaku. Yang setiap keluh kesahmu selalu ingin kusodorkan telingaku. Yang disetiap sikap manjamu selalu ingin kuhadiahi kedewasaanku.

Kamu…

Dalam diam aku selalu mengagumimu walau tak pernah terucap lewat bibirku. Walau kau tak pernah mengagumiku. Walau kini kau semakin jauh dari pandanganku.

Kamu…benar-benar membuatku semakin gila dengan segala kegilaan yang kumiliki.

Keramat

Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu

Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya

Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja

Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua

……………………..

………..

Pernah denger lyric lagu kayak gitu? Yes!! itu lagunya rhoma irama yang dinyanyikan seorang pengamen di bis jurusan Kp.Rambutan-Subang yang kutumpangi. Suaranya benar-benar indah hingga aku benar-benar menikmatinya…

berkali-kali lagu itu dinyanyikan…diulang lagi..diulang lagi..
hingga aku sadar ada yang selama ini kulupakan yang tertulis jelas dalam lyric itu…

Kadang kita egois pada ibu…
sejak kecil, bahkan sejak kita masih berupa seonggok daging dalam perut, ibu sudah merawat kita dengan cinta dan kasih sayangnya..
Tapi disaat kita dewasa, disaat malaikat cinta mulai menimbulkan rasa tertarik dalam hati kita pada lawan jenis, apa yang kita lakukan?
Kadang kita melupakan mereka karna sibuk larut dalam dunia “pecinta” yang sebenarnya semu..

Disaat kita sedang lelah atau sedang melakukan sesuatu, dan ibu meminta tolong…kadang kita “dengan sadar” menolaknya.
Tapi disaat apapun, bahkan disaat sedang tidur, dan “kekasih” ingin bertemu…”tanpa sadar bahkan sadar” kita langsung mengiyakan.

Kadang kita tidak sadar disaat membuat ibu kita sedih bahkan hingga menangis…
Tapi kita menjadi begitu sensitif saat kekasih “hanya” memalingkan wajahnya

Kadang kita tidak sadar bersikap cuek saat ibu mengeluh kesakitan…
Tapi kita menjadi begitu khawatir (entah serius entah pura-pura) saat kekasih hanya mengeluh kelelahan

Kadang kita tidak sadar bersikap “sedikit” membangkang ketika ibu meminta kita melakukan sesuatu demi kebaikan kita…
Tapi kita menjadi penurut saat kekasih yang melarang

Kadang kita terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran “aku takut kehilangan kamu”
tapi kita tidak pernah sadar suatu saat akan kehilangan ibu untuk selamanya yang mungkin bisa membuat kita “gila”

Saat patah hati, kita begitu larus dalam kesedihan hingga menganggap dunia ini runtuh bahkan mungkin sampai ingin mengakhiri hidup…
Tapi kita tidak pernah sadar, ada ibu yang selalu menemani kita, yang lebih sedih melihat anaknya disakiti…

Kekasih akan bisa menjadi sangat tega menyakiti hati kita…
tapi ibu, takkan pernah tega melihat hati anaknya terluka

Kekasih akan bisa dengan senang hati meninggalkan kita…
tapi ibu, takkan pernah bahagia meninggalkan anaknya

Padahal, jika meresapi kembali lyric Keramat-nya Rhoma Irama diatas, Doa ibulah yang keramat…bukan doa kekasih…

Yah…kadang kita memang tidak sadar…

Selalu Aku…

Ini semua tentang Aku…

Aku yang egois…

Ini semua tentang aku…

Aku yang selalu ingin dimengerti tanpa pernah mencoba mengerti mereka.

Aku sibuk dengan duniaku tanpa pernah menyadari kehadiran ibuku. Ibu yang tanpa setahuku selalu menangis di setiap malamnya karna mengkhawatirkanku. Begitu banyak beban yang ibu tanggung tapi aku masih tetap memaksanya untuk mengerti aku. Ibu yang harus bersabar menerima konsep “kemandirian”ku. Mencoba mengerti akan jiwa yang tak mungkin mendapat kemerdekaan jika aku terus berada dipangkuannya. Dan aku tak pernah sadar itu semua membuatnya begitu terluka. Terluka karena merindukanku karna ternyata suaraku di telephone tidak cukup mengobatinya.

Aku sibuk keluar masuk kota melengkapi petualanganku, tanpa menyadari Penantian ayahku. Ayahku yang dalam diamnya begitu mencintaiku tanpa pernah terucap dari bibirnya. Aku tak pernah tau disetiap sorenya dia duduk penuh harap didepan teras rumah menanti kedatanganku. Kedatangan yang tak kunjung datang karena kesibukanku mendatangi teras orang lain. Ayahku harus selalu mengelus dada saat melihat ayah dan anak bercerita tentang motor, binatang peliharaan, politik bahkan ekonomi di depan teras mereka, dan aku tak pernah tau itu. Atau mungkin tak pernah mau tau.

Aku sibuk mengukir guratan diwajahku agar terlihat bahagia tanpa pernah peduli bahwa guratan kesedihan di wajah mereka semakin hari semakin bertambah. Dan aku telah banyak melewatkan guratan itu.

Ini semua tentang aku…

Aku yang selalu ingin kamu mengerti tanpa pernah mencoba untuk mengerti kamu. Kamu yang selalu mampu membuat amarahku menjadi bahagia. Kamu yang selalu mampu membuat hatiku tenang. Kamu yang dengan segala caramu mampu membuatku tersenyum. Aku hanya tau cara untuk mendapatkanmu tanpa tau cara untuk kehilanganmu. Dirimu yang selalu mengerti aku, yang dibalik kemanjaanmu tersimpan kedewasaan yang selalu membuatku merasa nyaman. Aku hanya ingin kamu. Kamu yang telah membuatku mengikat hati ini begitu kencang hingga tak dapat kuregang kembali. Aku hanya berharap engkau menjadi miliku tanpa pernah berharap kau lepas dari genggamanku. Jika aku boleh meminta, aku hanya ingin kamu. Walau ada 1000 kamu di dunia ini.

Kini…saat kamu tak lagi kumiliki, entah dimana aku harus berlabuh. Karna jangkarku terlalu dalam kutambatkan dihatimu hingga sulit kutarik kembali.

Selamat Hari Ibu…

Pernahkah kita mengucapkan “terima kasih” pada ibu atas setiap permintaan?
Pernahkah kita mengucapkan “maaf” saat membuat hatinya terluka?
Pernahkah kita mengucapkan “tolong” untuk setiap perintah sepanjang hidup kita?

Kurasa kita sudah lupa akan hal itu…

Jujur, aku tak pernah berterimakasih pada ibu dan ayahku karna tidak membuangku ke tempat sampah…karna tak menitipkanku ke panti asuhan…karna tidak memotong tubuhku menjadi beberapa bagian lalu di buang ke selokan…

Tidak menjadi “lebay” kurasa jika berterima kasih pada mereka karna telah membiarkanku hidup, membiarkanku menikmati indahnya dunia, membiarkanku menghirup udara di setiap hela nafasku…

Ibu selalu siap mendekap kita penuh hangat dikala air mata mengalir deras dipipi kita…tapi apa pernah kita menyodorkan bahu kita untuk menjadi sandarannya agar sedikit mengurangi beban hidupnya?
Ibu selalu ada disetiap waktu saat kita membutuhkannya…tapi apa pernah kita menyediakan waktu untuk mereka berkeluh kesah atau hanya sekedar berbagi cerita?

Ibu…

yang selalu ada disetiap hariku,

yang selalu siap mendekapku penuh hangat,

yang tak pernah mengeluh menguras air matanya,

demi sesungging senyum diwajahku…

Ibu…kau selalu mempesona dimataku…

Ya Allah…tolong jangan ambil adikku

Saat itu jam di dinding rumahku menunjukkan angka 10.00 dan adikku sedang mewarnai buku gambarnya di ruang tamu.

“teh, aku mau minum biasa” begitu adikku biasa menyebut air mineral. Lalu kuambilkan segelasa air dan kuberikan padanya. Air itu tidak diminumnya, malah dia berkata, “aku kedinginan”

“Dede kedinginan? Sini aku gendong” kataku sambil menggendong adikku agar dia merasa hangat dalam pelukanku. Aku menganggapnya biasa saja karna saat itu dia memang sedang demam tapi tidak terlalu tinggi karna sudah minum obat.

“Dede sama mamah dulu ya, aku mau masukin motor” ya, seperti kebiasaanku pada malam-malam sebelumnya kewajibanku adalah memasukkan motor kedalam rumah.

Mamah membawa adikku kedalam kamar.

Setelah memasukkan motor, aku menuju lantai 2 untuk menonton TV. Belum ada 1 menit aku di atas, ibuku berteriak “teteh…teteh…c de fira” itu panggilan kami pada adikku.

Aku berlari turun dan mendapatkan mamah sudah berteriak-teriak dan menangis sambil mengendong adikku.

Begitu kulihat adikku, tubuhku merinding. Tubuh adikku kejang-kejang, matanya terbelalak melihat keatas. Nafasnya sungguh lemah dan lambat. Jari tangan mamah terlihat kebiruan karna digigit olehnya.

Saat itu fikiran negatif tak bisa kutepis dari benakku. Ya Allah, tolong jangan ambil adikku. Hanya itu doa yang terlintas.

“kenapa mah?”

“telfon papap!!! Cepeeetttt!!! Kata ibuku sambil berteriak, terlihat panik sekali.

Saat itu ayahku memang sedang keluar menemui kerabat.

“Ipa, keluarin motor” aku menyuruh adikku yg lain mengeluarkan motor. Hanya untuk berjaga-jaga jika ayahku tidak bisa pulang dengan cepat.

Kutekan nomor HP ayahku, namun sulit untuk dihubungi. Aku tak tega melihat mamah yg panik dan terlihat menahan sakit menahan gigi adikku agar mulutnya tidak menutup.

Aku fikir, ‘Aku tak bisa ikut-ikutan panik saat ini’. Lalu kuserahkan tefon pada Ipa, dan aku ambil sendok untuk menggantikan jari ibuku menahan gigitan adikku. Sangat kuat dia menggigit sendok hingga bisa kudengar suara gemerutuk kecil. Dia mengerang. Tubuhnya masih tegang.

Kupegang kepala adikku sambil tetap memohon,”Ya Allah…tolong jangan ambil adikku”

Semua ayat al-Quran yg aku hafal kulantunkan hingga tanpa sadar air mataku menetes.

Ah…aku benar-benar tak sanggup melihat ini semua. Aku tak ingin kejadian 2 tahun lalu terulang kembali. Saat sang maut menjemput adikku sesaat setelah burung kematian itu mematuk-matuk dijendela kamar adikku di Rumah Sakit.

“Mah, kita bawa ke UGD puskesmas dulu aja” saat itu aku tak mungkin membawa adikku ke RS.

Kubawa mamah dan de fira ke Puskesmas, air mataku tak bisa kubendung lagi. Sepanjang jalan aku menangis sambil bertasbih, beristigfar, bertahmid, apapun dzikir yg aku ingat saat itu. Dalam hatiku masih tetap meminta, “Ya Allah…tolong jangan ambil adikku”

Ditengah jalan aku bertemu papap yang akhirnya langsung berbalik arah menuju Puskesmas.

Setibanya di UGD Puskesmas, perawat langsung menangani adikku. Sekitar 15 menit, kemudian mereka bilang,”Ibu maaf ini harus dibawa ke RS. Nanti kami kasih rujukan”

Tanpa kompromi kami langsung meluncur menuju RS PTPN. Setelah kami tiba di UGD RS PTPN, dokter langsung menangani adikku. Aku menunggu diluar sambil gemetar. Yah…aku begitu takutnya hingga tak dapat menguasai diriku sendiri. Sambil menunggu, aku sms teman-teman yang ada di “buku contact” HP-ku. Kira-kira begini isinya, ‘tmn2,seni mnta doanya…ade seni msk UGD. Seni mohon dgn sangat…doanya…makasih”

Akhirya dokter bilang,”bu, ini harus dirawat” Ah…aku tak tega jika tangan sekecil itu harus dimasuki jarum dan selan infus. Tapi apa boleh buat, demi kesembuhan adikku.

Saat itu teman-teman ayahku langsung datang ke RS, kira-kira 6 orang. Lalu kulihat jam di dinding RS menunjukkan pukul 11.35 malam. Ah…sungguh baik mereka. Terima kasih pak…

Setelah kurang lebih 10 menit di ruang rawat inap, adikku bangun. Dan taukah apa yang dia ucapkan? Setelah lebih dari sejam dia mengalami masa kritis, dengan wajah polosnya dia bertanya,”lulu mana?”

Haha…kami tertawa. Setidaknya kami tau bahwa dia sudah berhasil melewati masa kritis itu dengan menanyakan “Lulu” sang boneka kesayangan yang selalu dibawanya kemanapun, bahkan ke sekolahnya.

 

Hhh…terimasih teman-temanku. Tanpa doa kalian entah apa jadinya kami. Terima kasih Kang Inin, Andri, Wini, Dahlia dan semua teman-teman yg telah kuminta doanya…maaf sudah merepotkan karna smsku datang terlalu larut dan mengganggu istirahat kalian.

 

Terimakasih…LoVe U AlL…

 

Saat aku menulis ini, adikku dirawat di RS dan sedang demam tinggi. Kami semua sedang menunggu dokter anak, tapi sudah 3 kali ibuku meminta dokter itu tak kunjung datang. Ah…

Haruskah aku skeptis?

Suatu hari ibuku bertanya, mengapa aku selalu mengambil langkah seribu ketika ada lelaki mencoba mendekatiku. Aku tak tau harus menjawab apa, karna aku pun tak mengerti. Sikap skeptisku pada lelaki bukan tanpa alasan.

Bukan hanya sekali aku “didekati” oleh pria “berpacar” bahkan “bersuami”. entah kenapa…apakah tampangku seperti wanita-wanita “penggoda”? yang rela dijadikan “selingan” mereka hanya untuk dapat kesenangan?Atau karna mereka menganggap semua wanita sama? sama-sama bisa dirayu dan diiming-imingi “cinta” walau sebenarnya itu semu…?

Aku sangat terbuka jika ada lelaki yang mau menjadi sahabatku. tapi untuk lebih dekat? Ah…trauma itu belum juga hilang.

jika ada pernyataan, “kan ngga semua lelaki kayak gitu”. ya…memang tidak semua, tapi bagaimana aku bisa membedakannya?

Ah…pak, mas, maaf…saya wanita yang masih punya hati nurani. Bukan prinsip saya menghalalkan segala cara untuk mendapat kesenangan semata. Mungkin wanita-wanita yang pernah kalian temui bisa menerima hal itu, tapi maaf…tidak dengan saya…Tak pernahkah kalian berfikir anak, kakak, atau bahkan ibu kalian menjadi “alat kesenangan” lelaki hidung belang itu?

 

“Good Bye…!”

“Good Bye…”

 

Hanya itu sms yang kuterima darinya. Sms yang setiap hari aku nantikan, sms yang kuharap membawa angin kesegaran bagi hatiku, sms pertama kali yang kuterima sejak 3 bulan lalu sekaligus sms terakhir darinya. Singkat! namun membuat hatiku begitu terluka saat membacanya. Satu kata yang hingga kini sangat sulit untuk kulupakan.

 

…………………………………………………

 

“Ay…aku dapet kerjaan nih di Riau. Boleh ngga?”

“Hah? Riau? Jauh amat yank. Ngga bisa apa nyari yang disini?”

“Mmmm…bukannya gitu. Waktu itu om Andre ke rumah ngasih tau ada lowongan di kantornya, pas banget kedengeran mamah. Akhirnya mamah nyaranin aku buat ngelamar kesitu. Sebenernya aku juga udah lama pengen kerjaan ini. Eh, pas ada kesempatan, ya udah aku ambil. Kerjanya enak, gajinya gede, udah gitu bisa pulang-pergi dari rumah lagi.”

“Udah lama? Trus kenapa kamu baru bilang sekarang?”

“Maafin aku Ay, bukan maksud aku nutup-nutupin. Aku cuma lagi nyari waktu yang tepat aja. Aku takut kamu marah dan ngelarang aku pergi.”

“Trus, klo aku bilang ngga boleh gimana?”

“Mmmm…gimana ya? Aku udah tandatangan kontrak pas kemaren pulang ke rumah dan mulai Senin depan aku masuk kerja. Kalo aku batalin kontraknya aku harus bayar denda, kan melanggar kontrak.”

“What? Kamu udah tanda tangan kontrak dan ngga bilang sama aku? Jadi kamu balik lagi kesini buat bawa barang-barang kamu? Ty, come on! Kamu anggep aku ini apa?”

 

Tya terdiam. Aku kecewa, bukan karna kekasihku akan pergi ke tempat yang tidak mungkin bisa kukunjungi tiap minggu, tapi karna berita itu datang begitu tiba-tiba. Bukankah senam pun harus ada pemanasan? Tinggal 2 hari lagi menuju Senin dan aku tak tau apa yang kurasakan saat ini. Haruskah aku menyia-nyiakan waktuku yang tinggal beberapa puluh jam lagi ini dengan memarahinya? Ah…aku benar-benar tak sanggup untuk kehilangan wanita yang sejak 5 tahun terakhir ini kupacari.

“Ay…aku bukanya mau ninggalin kamu. Kan sesekali kamu masih bisa maen ke rumah aku. Atau kalo aku libur, gantian aku yang kesini. Lagian aku juga ngga mau lama-lama pisah dari kamu. Nanti kalo ada lowongan yang cocok sama kamu, aku kasih tau deh. Siapa tau kita bisa satu kantor. Ya kan?”

 

Ah…Tya, kau tak kan mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Bagaimana aku bisa mengunjungimu jika sejak awal orang tuamu tak pernah menyetujui hubungan kita? Bagaimana aku bisa mencari kerja di tempatmu sedangkan orang tua yang sangat kukasihi tak mungkin kubawa pindah dari pulau Jawa ini? Apakah ada jaminan tebing cintamu takkan terkikis saat teman-teman kantormu mencoba mengisi ruang kosong dihatimu yang kutinggalkan untuk sementara?

 

“Ay…!” Genggamannya menghancurkan skenario lamunanku. Kutatap wajah yang selama 5 tahun ini selalu kurindukan disetiap mimpi-mimpiku.

 

“Kamu marah ya Ay?” Ah…aku benar-benar tak sanggup melihat wajahnya untuk saat ini. Wajah yang selama 5 tahun selalu memberi kesejukan dihatiku , wajah yang mulai senin depan tak bisa lagi kupandangi sesuka hati.

“Sayank…maaf kalo untuk sesaat aku kecewa sama kamu. Perasaan itu muncul karna aku benar-benar takut kehilangan kamu. Tapi aku sadar kalo itu semua hak kamu. Hak kamu untuk menentukan masa depan kamu sendiri. Jadi aku ngga punya hak untuk ngelarang kamu.”

“jadi kamu ngebolehin aku pergi?”

“yups! Lagian kan klo di Riau aku ngga perlu khawatirin kamu. Udah ada yang jagain, mamah sama papah kamu.”

“Makasih ya Ay…” Tya mengecup pipi kiriku. Ah…mungkin beberapa hari kedepan…beberapa bulan kedepan…aku akan sangat merindukan kecupan ini. Hhh…

 

6 Bulan kemudian…

 

To : watashi.tya@yahoo.com

Cc :

Subject : baca, pliss….

 

Yank…kamu kmn aja sih? Hp kamu knp? Kok ngga bisa dihubungi?

Oh ya, minggu depan aku ke Riau, ngerjain proyek dosenku slama 1,5 bulan. Ketemuan yuk!!! Aku jg sekalian pengen ke rumah kamu.

 

Who always Miss U…

 

Doni

 

…………………

 

Sms diterima

 

Dari :

Lovely Tya

10.11.2009

08:13 PM

 

Good bye…

Tak bisakah?

Upi

jadi gmn?

Kamu siap ga jd ibu dr anak2ku?

Bian

haha..ga usah ngetes deh.

Brp cewe yg udah km kibulin?

Upi

…?

Ga prcaya bgt sm aq.

Bian

Haha..ga usah pura2 lupa!!!

Km sndiri yg bilang ibarat kapal,

km bkl menurunkan jangkar di stiap plabuhan

Upi

“sampai kutemukan pelabuhan yg indah”

“sampai kutemukan pelabuhan

yg hanya akan mjadi milikku”

Aq inget kok…

Bian

So…?

Upi

So…? Mau ga jd plabuhan terakhirku?

Bian

Hahaha…you wish!

Aq ga bakal kalah…

Jgn samakan aq dgn pr pengagum

yg bs kau dustai

Hahaha…apa c ?

Upi

Bi…aq serius…!!!

Aq bneran mau km yg jd permaisuriku

Bian

Pi…I know, I’m not u’r type

And u’r not my type

Upi

Kata siapa?

Sok tau km

Bian

Kt gw…

Apa yg gw ga tau ttg lo?

Upi

Hahaha…emang susah klo mo nipu lo

Kalah trusss…

Bian

Trus aja ktawa (hahaha…)

Puas lo ngerjain gw?

Ga bakal kena…!!!

Weeekkkk…!!!

Upi

Hahaha…sial!!!

Knp jurus gw ga prnh mempan sm lo ya?

Bian

Krn gw org baekk

Tuhan kasian ama gw klo kena perdaya lo

Hahaha…

Upi

Hahaha…brarti Tuhan ga sayang ama gw dunk?

Bian

Yee…baru tau lo?

Kmn aja?

Hehehe…piss!!

Ah…sepenggal obrolan di FB yang membuatku sempat merasakan kebahagiaan. Namun semua itu berubah menjadi menyakitkan ketika aku tau dia hanya mempermainkanku. Pi…taukah kau, aku benar-benar berharap ini semua menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa aku tidak bertepuk sebelah tangan mencintaimu. Kenyataan bahwa kau ingin menjadikanku permaisuri di istanamu dan menjadikanku ibu dari anak-anakmu.

Namun semua itu sia-sia kurasa.

Tak cukup waktuku untuk terus berusaha menyentuh hatimu. Terlalu sulit. Bahkan disaat waktuku mulai habis, kau belum mau menoleh kearahku. Aku lelah pi…

Kurasa sudah tiba waktuku untuk benar-benar meninggalkan bayang-bayangmu jauh dibelakangku. Aku ingin menatap hari esok tanpa wajahmu yang selalu menghiasi fikiranku selama beberapa tahun terakhir.

“lo beneran mo ngejauh dari dia Bi?”

“huuh…” kataku sambil menganggukan kepala. Padahal Lia, temanku diseberang telfon takkan bisa melihat anggukanku.

“Serius lo mo nyerah sampe disini?gitu aja?”

“gitu aja? Maksud lo?”

“yah, setelah perjuangan lo pedekate ama dia bertaun-taun. Lo yakin mo berenti tanpa tau isi hati dia yang sebenernya sama lo?”

“Gw rasa gw udah tau deh isi hati dia”

“Sok tau lo”

“emang gw tau.gw bukan anak SD yang harus bertanya langsung untuk mengetahui sesuatu Li…semuanya udah tersirat dari sikap dan perlakuan dia sama gw slama ini”

“Kata siapa?buktinya dia ga tau klo lo suka sama dia. Karna sikap lo biasa aja ama dia.ya kan?”

“Au ah…pokoknya gw mo nyerah!!! Cukup sampe sini aja. Umur gw udah ngga bisa diajak kompromi nih.”

“Hmm…ya udah,terserah lo. Gw sih ngedukung aja. Tapiii…jgn sampe nyesel ya…”

“satu-satunya penyesalan gw, menyia-nyiakan waktu untuk pedekate ama dia tanpa hasil. Arghhh…”

“yee…jgn sembarangan lu ngomong”

“hehe…iya, maaf..udah ah, ngantuk gw. Bye…”

Klik…kututup telfon, lalu kuhempaskan tubuh diatas kasur sambil memikirkan cara jitu apa yang bisa kulakukan agar bisa melupakan dia. Hhh…sakit rasanya jika aku memikirkan hal itu. Cinta yang selama ini aku pelihara, ternyata kandas ditengah jalan.

Andre

Gimana neng?

Bian

…? Apaan?

Andre

Sudah bisa menerima konsepku?

Bian

…….

Andre

Kok gitu?

Sdh ada pria lain?

Untuk beberapa menit aku tidak menjawabnya. Andre, pria yang kukenal lewat Facebook itu  memang pernah mengajukan diri untuk menempati hatiku. Namun saat itu hatiku sudah dipenuhi Upi hingga tak ada celah sedikitpun untuk pria lain. Kini disaat aku mencoba untuk mendepak Upi dari hatiku, dia kembali datang dengan kesabarannya. Apa aku harus menerimanya? Bisakan aku menerimanya dengan ikhlas sebagai kekasihku tanpa menjadikannya pelarian? Ah…

Andre

Neng…?

Kok diem?

Andre

Bian…?

Bian

Hehe…maaf td lg nglamun

Andre

…?duh, aq jd ga enak

Maaf ya udah bkn km pusing

Bian

Yee…pede bgt c kang.

Siapa jg yg mikirin akang

:p

Andre

Ooo…kirain lg nglamunin aq

Hehe..

Bian

Hahaha…

Andre

Hahaha jg

Bian

Ga penting!

Andre

Km jg ga penting!

Bian

Oooo…jd aku ga pnting nih?

Ok!

Andre

Eh,bkn gitu…

Bian

Bkn gt gmn?

Andre

Ya mksd aq bkn km yg ga penting

Bian

Hehehe…bcanda kang

Sgtu seriusnya

Andre

Dasarrr…

Jd km ngrjain aq?

Ga sopan!

Bian

Hehehe…

Genap 3 bulan aku tidak bertemu Upi dan kini dia muncul didepan rumahku. Ada perasaan senang karna aku bisa melihatnya setelah sekian lama. Tapi ada perasaan khawatir yang lebih besar karna hingga kini aku belum bisa melupakannya.

“Hai Bi…!”

Hanya sesungging senyum yg kuberikan saat dia menyapaku. Ada perasan canggung diantara kami ketika kami duduk berdua di depan teras rumahku. Dia lain dari biasanya, sangat pendiam dan sopan. Nice…!

Aku benar-benar tak berani mengeluarkan sepatah katapun didepannya. Aku sibuk menata hatiku agar tidak membuncah. Karna jujur, jika boleh aku benar-benar ingin memelukya saat ini juga. Ah…Upi…

“Kamu pa kbr Bi…?”

“Baik. Kamu?”

“Aku baik…”

Hening…Entah sejak kapan Upi ber”aku-kamu” (selain mengerjaiku). Jantungku berdegup kencang tak sejalan dengan nafasku yang hampir tidak berhembus. Sesak nafas aku dibuatya.

“Aku tau semuanya dari Lia”

“Heh?”

“Iya, soal perasaan kamu sama aku?”

What??? Lia memberitahu perasaaanku pada Upi?  Kenapa? Dan kenapa sekarang? Arrgghhh…

“Udah dari dulu, aku juga…aku juga suka sama kamu Bi…”

“Hah…?” tanpa sadar aku berteriak mendengar pernyataannya.

“Iya, sejak kita deket 3 taun lalu aku udah suka sama kamu. Tapi aku ngga berani bilang karna aku liat kamu biasa-biasa aja sama aku. Tadinya aku mau mengubur perasaanku dalem-dalem sampe akhirnya tadi malem Lia bilang semuanya sama aku.”

Aku benar-benar tak tau harus bicara apa. Perasaanku tak keruan saat ini. Kenapa baru sekarang Pi? Disaat aku sedang berusaha keras melupakanmu…disaat aku…ahhh….

“Bi…mau ngga kamu jadi pacar aku?”

Ahh…akhirnya kata-kata yang sudah aku tunggu selama 3 taun keluar juga. Tapi mengapa baru sekarang Pi…?

“Maaf Pi, aku sudah tunangan”

Bersambung…..

Manajemen Insan Sempurna

Memang tidak ada yang sempurna dalam hidup ini kecuali Allah…namun kita sebagai manusia tentu harus berusaha menuju suatu kesempurnaan bukan?

Kesempurnaan dalam hidup dapat diwujudkan dengan menyeimbangkan 8 hal, yaitu : Fisik, emosi, Intelektual, Sosial, Estetika, Etika, Finansial,  dan Spiritual. Sungguh …manusia adalah aset yang sangat berharga. Bayangkan jika kita semua mampu memanfaatkan dan menyeimbangkan 8 hal tersebut dengan baik…. apa yang akan terjadi?

Buku ini benar-benar merubahku…pertama kali kubaca, aku berubah secara emosional. Kedua kali, buku ini mampu merubah pola pikirku yang ternyata salah selama ini. Entah apa yang akan kudapatkan saat aku membaca buku ini untuk kesepuluh kalinya. Info lebih lanjut…klik

http://sempurna.co.id/

It’s a fun trip…really!!!

18 Oktober, 21.30

Ah…akhirnya sampe juga di kosan temenku di Bogor.  Setelah sebulan aku ngga nengokin kota hujan, akhirnya jan stengah sepuluh kakiku “napak” di terminal Baranang Siang. Huff…sungguh perjalanan yang melelahkan. semenjak terminal bayangan UKI ditutup aku harus rela mampir ke kp.rambutan dulu klo mau ke Bogor. Tapi ga tau kenapa hari ini ada “inisiatif” yang jarang kulakukan, aku naik Bis jurusan Bogor di depan Sadang Terminal Square karna kufikir akan lebih nyaman, jadi aku ga perlu muter dulu ke kp. rambutan. Tapi apa yg aku dapet? ternyata inisiatif itu ga berguna sama sekali, satu setengah jam aku nunggu tapi bis ga nongol-nongol. jam tanganku menunjukkan pukul 17.30 saat itu. Suerrr aku takut banget klo ternyata udah ga ada bis jurusan bogor jam segitu. akhirnya aku putusin untuk naik bis jurusan Kp.rambutan. Hahh…wrong choice ternyata. Al hasil baru jam stengah 10 malem aku menginjakkan kaki di Bogor. padahal aku berangkat dari rumah (Subang) jam 14.15. Hahh!!! dasar oneng!!!

19 Oktober, 15.00

Hari ini aku harus ke Sekolah Tinggi Perikanan di pasar Minggu buat ngambil kartu ujian CPNS DKP. Alhamdulillah lolos seleksi administrasi… aku berangkat sore karna nunggu odah (sahabatku) pulang kerja, jadi aku bisa pergi bareng dia. Inilah kebodohanku yang kedua!!! kenapa ga berangkat siang aja ya ke STPnya? ini kan jam pulang kantor dan bisa ditebak gimana situasi KRL Jakarta-Bogor jam2 segini??? Huhh… pulang dari STP aku naik kereta AC-Ekonomi karna Pakuan ga berenti di stasiun pasar minggu. lalu kenapa aku ga naek KRL ekonomi??? Parah…!!!kalau diibaratkan seekor sapi aku akan berubah menjadi dendeng ketika sampai di stasiun Bogor. penuh…sesak…peraturan “tidak boleh berdiri di pintu kereta, tidak boleh naik ke atas gerbong, bla bla bla…” tidak diindahkan sama sekali. bukan hanya naik keatas gerbong saja, bahkan beberapa anak sekolah dengan sombongnya berdiri di belakang gerbong, hanya berpegangan pada besi-besi berdiameter 1 cm kurasa. Hah…nyawa memang sudah tidak ada harganya lagi di Indonesia ini.

20 Oktober, 06.00

It’s time!!! hari ini ujian seleksi CPNS DKP dan aku kesiangan. great!!! entah alarm di ponselku berbunyi atau tidak, yang pasti aku terbangun saat jam di tanganku menunjukkan pukul 05.00.

Untung saat tiba di stasiun kereta AC-Ekonomi belum berangkat, karna aku tak bisa membayangkan jika harus naik kereta ekonomi. bisa-bisa materi yang tadi malam aku pelajari hilang terbawa oleh keringat tubuhku yang mengalir deras.

Alhamdulillah…ujiannya lancar.

jam 12.00 aku pulang ke Bogor setelah makan mie ayam dulu di pasar minggu. Tanpa ragu aku membeli tiket AC-Ekonomi karna aku tak ingin jadi keripik saat tiba di BOgor. walau masih siang, tapi aku bisa memastikan saat ini kereta akan sangat penuh oleh orang-orang sepertiku. orang yang berharap bisa lolos ke tahap selanjutnya tes cpns dkp.

setelah banyak halangan dan rintangan di jalan, akhirnya aku sampe juga di Bogor. waktu itu jam stengah 4. aku nganter odah dulu ke kantor. katanya, ” mo ngambil file proposal dulu, soalnya harus beres besok”. Oke!!!

tetep gaya

tiba-tiba dina temanku yang lainnya nongol, “eh, kita diajakin makan nih ma anggie. katanya mo ditraktir boay. ikut ga?”

“Ikuuuutttt!!!” jawab aku en odah mantap. mana mungkin kita melewatkan moment “makan gratis ini?” hehehe…

Tadinya kufikir boay (teman sekelasku) kelebihan duit di ATMnya hingga dia berbesar hati traktir kita semua yang makannya ga ketulungan banyak, tapi ternyata hari ini dia Ulang Tahun. Waw….senangnya…

really miss u all...

Wuaaaaa……seru!!! Selamat ya Ay…Wish all the great for U deh. Semoga abis ini lo bisa dapet cewe yang lebih baik. tenang…kita semua akan selalu jadi teman yang menemani dalam seka dan duka.

Ah…akhirnya selesai perjalananku di Bogor. tinggal besok deh ke Jakarta buat ketemu Dosen. Hmmm….nanti pasti aku posting ceritaku ketemu dosen. seru…!!!

« Older entries